Gonjang-Ganjing Perbankan AS, Emas Dunia Bisa ke US$3.000 – CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia saat ini berada di level tertinggi dalam setahun dan mendekati US$2.000 per troy ons. Penyebabnya adalah krisis perbankan yang sedang terjadi. 
Kejatuhan bank di Amerika Serikat menimbulkan ekspektasi besar, Federal Reserve menghentikan siklus pengetatannya, kata Bloomberg Intelligence.
Pasar saat ini sedang mencerna dampak dari regulator AS yang terburu-buru untuk membendung kegagalan mendadak Silicon Valley Bank dan Signature Bank.
Sekarang ada laporan, Departemen Kehakiman AS dan Securities and Exchange Commission telah meluncurkan penyelidikan terpisah atas keruntuhan Silicon Valley Bank.
Selain itu, Moody menurunkan prospek sistem perbankan AS dari “stabil” menjadi “negatif”.
Pasar emas telah menerima permintaan safe haven dari kondisi perbankan AS yang buruk. Namun, harga telah didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS. 
“Krisis perbankan adalah bagian dari pasang surut ekonomi, dan Federal Reserve melakukan pengetatan,” kata ahli strategi makro senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone.
Mengingat perubahan dalam lingkungan makro ini, emas pasti akan melihat rekor tertinggi barunya, kata McGlone Selasa.
Pola perdagangan emas bisa menyerupai tahun 2018, ketika logam mulia menembus US$1.350 per ons setelah dana berjangka Federal mengisyaratkan pergeseran dari pengetatan ke pelonggaran.
Kali ini, hasilnya bisa jadi emas naik ke level US$3.000.
“Reli itu membawa logam ke ketinggian baru sekitar US$2.060. Kondisi tampaknya cukup untuk emas menuju ke US$3.000,” kata McGlone.
Harga komoditas yang lebih rendah juga menunjukkan prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di mana Fed tidak dapat memperketat lebih lanjut.
“Indeks Spot Komoditi Bloomberg turun sekitar 20% dalam basis 12 bulan hingga 13 Maret, dan Fed tidak pernah mempertahankan siklus pengetatan dengan kondisi deflasi seperti itu (database sejak 1960) mungkin terjadi di kuartal pertama. Fed berporos ke pelonggaran telah menjadi faktor utama untuk membeli emas,” jelas McGlone.
Inilah sebabnya mengapa emas terlihat menjadi komoditas unggulan tahun ini, terutama jika AS sedang dalam resesi.
“Probabilitas tertinggi untuk kontraksi ekonomi dari kurva imbal hasil sejak 1982 mungkin menjadi alasan yang cukup untuk rasio logam terhadap Bloomberg Commodity Spot Index (BCOM) naik dalam pola yang sama seperti dari dasar pada 2008,” tambah McGlone.
CNBC INDONESIA RESEARCH
research@cnbcindonesia.com 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *