Ini Warning IMF soal Perbankan Dunia, Negara Diminta Waspada – CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia – Dana Moneter Internasional memberikan peringatan terbaru soal perbankan dunia. Hal ini terjadi pasca ambruknya beberapa bank di Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Kepala IMF Kristalina Georgieva mengatakan perlu adanya kewaspadaan yang tinggi meskipun tindakan oleh negara maju telah menenangkan tekanan pasar. Ini diperlukan mengingat 2023 yang menurutnya masih memberikan tantangan besar pada ekonomi global.
“Jadi, kami terus memantau perkembangan dengan cermat dan menilai implikasi potensial untuk prospek ekonomi global dan stabilitas keuangan global,” katanya kepada CNBC International, Minggu dikutip Senin (27/3/2023).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

“IMF memperhatikan negara-negara yang paling rentan, terutama negara-negara berpenghasilan rendah dengan tingkat utang yang tinggi.”
Menurut Georgieva, pertumbuhan global melambat hingga di bawah 3% pada 2023 karena luka akibat pandemi, perang di Ukraina, dan pengetatan moneter. Bahkan dengan prospek yang lebih baik untuk tahun 2024, pertumbuhan global akan tetap jauh di bawah rata-rata historis sebesar 3,8%.

Bacaan Lainnya

Ia juga memperingatkan bahwa fragmentasi geo-ekonomi dapat memecah dunia menjadi blok-blok ekonomi yang bersaingan. Ini dapat mengakibatkan perpecahan berbahaya yang akan membuat semua warga dunia menjadi lebih miskin dan kurang aman.
Sementara itu, Georgieva juga mengomentari laju negara eksportir terbesar dunia, China. Ia mengatakan Negeri Tirai Bambu memiliki proyeksi pertumbuhan PDB sebesar 5,2% pada tahun 2023, memberikan secercah harapan baru bagi ekonomi dunia dengan menyumbang sekitar sepertiga dari pertumbuhan global.
IMF juga mendesak para pembuat kebijakan di China untuk bekerja meningkatkan produktivitas dan menyeimbangkan kembali ekonomi dari investasi, termasuk melalui reformasi berorientasi pasar untuk menyamakan kedudukan antara sektor swasta dan badan usaha milik negara.
“Reformasi semacam itu dapat mengangkat PDB riil sebanyak 2,5% pada 2027, dan sekitar 18% pada 2037,” kata Georgieva.
Ia mengatakan menyeimbangkan kembali ekonomi China juga akan membantu Beijing mencapai tujuan iklimnya, karena beralih ke pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi akan mendinginkan permintaan energi, mengurangi emisi, dan mengurangi tekanan keamanan energi.
“Melakukan hal itu dapat mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 15% selama 30 tahun ke depan, yang mengakibatkan penurunan emisi global sebesar 4,5% selama periode yang sama,” tambahnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *