Pangsa Pasar Bank Syariah Stagnan, Daya Saing Jadi Ganjalan – Bisnis.com

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro
Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro
Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah problematika dinilai menjadi ganjalan bagi pertumbuhan perbankan syariah di Tanah Air sehingga pangsa pasarnya masih berada di posisi stagnan.
Hal ini disampaikan Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara, yang mengatakan, alasan market share perbankan syariah masih di kisaran level di 7,7 persen yakni terbatasnya daya saing bank syariah dibandingkan dengan perbankan konvensional.
“Kalau kita hanya tawarkan produk musyarakah, itu [produk] padanannya di perbankan konvensional banyak, kita perlu produk unik yang bisa menarik nasabah untuk dekat dengan kita,” ujarnya dalam agenda virtual Sustainable SOE & Islamic Business Forum 2023, Rabu (27/9/2023). 
Berdasarkan laporan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) OJK, nilai total aset perbankan syariah sampai dengan Juni 2023 mencapai Rp801,68 triliun, naik dibandingkan dengan posisi Juni 2022 sebesar Rp703,55 triliun.
Jika diukur secara persentase, pertumbuhan aset perbankan syariah pada Juni 2023 tercatat sebesar 7,63 persen atau tumbuh tipis dari yang sebelumnya 7,14 persen pada Juni 2022.
Adapun, secara rinci, Pandji menyebut sejumlah momok permasalahan kecilnya pangsa pasar perbankan syariah, salah satunya soal tingkat literasi dan inklusi yang rendah.
Baca Juga
Berdasarkan data Survei Nasioanl Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2022, tingkat literasi dan inklusi secara nasional sebesar 49,68 dan 85,10. Sementara tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah secara nasional hanya 9,14 persen dan 12,12 persen.
“Kedua indikator ini menunjukan demand yang belum optimal terhadap produk dan layanan perbankan syariah,” ucapnya.
Tak hanya itu, Pandji pun menyebut belum terbentuknya ekosistem halal dalam rangka peningkatan peran perbankan syariah dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.
Diperlukan sinergi dengan industri halal, lembaga keuangan sosial Islam, lembaga keuangan syariah lainnya, hingga kementerian dan lembaga. Lebih lanjut, dia menuturkan saat ini keberpihakan dan stimulus untuk perbankan syariah juga belum optimal.
“Kita sering lihat sih, banyak pihak bilang ‘kita majukan syariah yuk, kita buat seminar ini,’ yang kita perlukan bukan seminar, tetapi stimulus,” tegas Pandji.
Baginya, industri perbankan syariah yang masih berada pada tahap infancy mengalami kesulitan untuk bersaing dengan industri perbankan konvensional yang telah mature di Indonesia. 
Dengan begitu, perbankan syariah masih memerlukan dukungan untuk dapat bersaing. Mulai dari keberpihahan kebijakan terhadap pengembangan, stimulus dan insentif untuk mendorong pertumbuhan, dan percepatan proses perizinan produk dan layanan, khususnya pengembangan produk dan layanan dengan kekhususan syariah.
Selanjutnya, permasalahan yang masih dihadapi perbankan syariah adalah soal sumber daya infrastruktur yang belum memadai, yang pada akhirnya mengakibatkan operasional bank yang tidak efisien.
Pandji pun mengungkapkan mayoritas dari 13 Bank Umum Syariah (BUS) masih memiliki permodalan yang lemah dan sebagian besar dari Unit Usaha Syariah (UUS) memiliki aset kurang dari Rp10 triliun.
“Hal ini mengindikasikan size pemain dalam perbankan syariah masih memiliki ukuran yang kecil dan mayoritas masih memiliki kesulita dalam mencapai economies of scale dalam penyediaan layanan dan produk yang bersaing dalam pasar perbankan nasional,” tutupnya. 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Ajak orang terdekat Anda untuk berpartisipasi dalam kuisioner Finansial 101
Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro
Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro
Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro
Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro
Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *